Kenapa Perubahan Kecil Bisa Terasa Sangat Besar bagi Anak Autistik?

Pagi ini anak biasanya memakai sepatu biru, tetapi sepatunya basah. Atau, jalan menuju sekolah yang biasa dilewati sedang ditutup. Bagi orang dewasa, perubahan seperti ini mungkin terasa kecil dan mudah diselesaikan. Namun, bagi sebagian anak autistik, perubahan tersebut dapat terasa sangat besar.

Saat anak terlihat menolak, menangis, diam, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk melanjutkan aktivitas, itu belum tentu berarti ia sengaja membangkang. Bisa jadi, ia sedang berusaha memahami situasi yang tiba-tiba berbeda dari yang ia harapkan.

Memahami mengapa anak autis sulit perubahan rutinitas dapat membantu caregiver memberikan dukungan yang lebih tenang, tanpa terburu-buru menyalahkan anak maupun diri sendiri.

Rutinitas memberi rasa terprediksi

Rutinitas bukan sekadar kebiasaan yang diulang setiap hari. Bagi banyak anak, rutinitas membantu mereka mengetahui apa yang akan terjadi, kapan sesuatu dimulai, dan apa yang perlu dilakukan setelahnya.

Ketika urutan itu berubah mendadak, anak mungkin perlu memproses banyak hal sekaligus: informasi baru, pilihan baru, bahasa yang digunakan orang dewasa, hingga perubahan suasana di sekitarnya. Hal ini bisa membuat tubuh dan pikirannya terasa kewalahan.

CDC mencantumkan kebutuhan mengikuti rutinitas tertentu serta respons yang berbeda terhadap rangsangan sensorik sebagai beberapa karakteristik yang dapat muncul pada individu autistik. Baca tanda dan gejala autisme menurut CDC.

Karena itu, perubahan kecil seperti guru pengganti, jadwal terapi mundur, lauk makan siang yang berbeda, atau rencana pergi yang batal bisa memiliki dampak yang lebih besar dari yang terlihat.

Perubahan juga dapat melibatkan kebutuhan sensorik

Tidak semua kesulitan menghadapi perubahan berasal dari rutinitas. Kadang, perubahan tersebut juga membawa pengalaman sensorik yang baru.

Contohnya, anak perlu memakai baju yang berbeda karena seragamnya belum kering. Baju baru itu mungkin memiliki bahan, jahitan, suhu, atau aroma yang terasa tidak nyaman. Saat rute pulang berubah, anak juga mungkin harus menghadapi suara kendaraan, keramaian, atau cahaya yang lebih kuat dari biasanya.

Setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda. Ada anak yang lebih peka terhadap suara, sentuhan, atau cahaya; ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Penjelasan AAP tentang pemrosesan sensori dapat menjadi salah satu rujukan awal untuk memahami hal ini.

Yang bisa caregiver coba sebelum perubahan terjadi

Perubahan memang tidak selalu dapat dihindari. Namun, caregiver bisa membantu anak mempersiapkannya dengan beberapa langkah kecil.

Pertama, beri tahu anak lebih awal bila memungkinkan. Gunakan kalimat singkat dan konkret, misalnya, “Hari ini kita pulang lewat jalan lain karena jalan biasa ditutup.”

Kedua, gunakan bantuan visual. Anak dapat terbantu dengan gambar sederhana, jadwal harian, foto tempat tujuan, atau urutan kegiatan: “Selesai sekolah – makan – pulang lewat jalan baru – sampai rumah.”

Ketiga, beri pilihan yang tetap terbatas. Misalnya, jika jadwal mandi berubah, caregiver dapat berkata, “Kamu mau mandi sekarang atau setelah makan buah?” Pilihan kecil dapat membantu anak tetap merasa memiliki kendali.

Keempat, sisakan waktu transisi. Bila biasanya anak membutuhkan lima menit untuk bersiap, coba tambahkan waktu agar ia tidak merasa dikejar-kejar. Hindari memberi banyak instruksi sekaligus saat anak sedang berusaha menyesuaikan diri.

Terakhir, tidak apa-apa jika rutinitas keluarga perlu fleksibel. Rutinitas yang baik bukan berarti semua harus berjalan sempurna, tetapi membantu anak merasa lebih siap menghadapi hari. Panduan AAP tentang rutinitas keluarga juga menekankan pentingnya keseimbangan antara struktur dan fleksibilitas.

Saat respons anak terasa sangat berat

Jika anak menunjukkan respons yang sangat kuat, utamakan rasa aman terlebih dahulu. Kurangi tuntutan, gunakan suara yang tenang, dan beri waktu bagi anak untuk kembali stabil. Saat itu bukan waktu terbaik untuk mengajarkan banyak hal atau meminta penjelasan panjang.

Setelah situasi lebih tenang, caregiver dapat mengamati apa yang mungkin membuat perubahan terasa berat: apakah terlalu mendadak, terlalu bising, terlalu banyak pilihan, atau ada kebutuhan fisik lain seperti lapar dan lelah.

Bila kesulitan ini sering mengganggu tidur, makan, keamanan, sekolah, atau aktivitas sehari-hari, tidak ada salahnya berdiskusi dengan dokter anak atau profesional yang mendampingi anak.

Perubahan kecil mungkin tidak selalu terasa kecil bagi anak. Dengan persiapan, komunikasi yang jelas, dan waktu yang cukup, caregiver dapat membantu anak melewati transisi dengan rasa aman yang lebih besar—selangkah demi selangkah.

Share:

Facebook
WhatsApp
X
Threads
Author picture

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Table of Contents