Pagi hari sering kali sudah terasa terburu-buru. Seragam harus dipakai, sepatu perlu dicari, dan waktu berangkat semakin dekat. Namun, anak tiba-tiba menolak kaus yang biasanya tersedia atau terus menarik bagian kerah bajunya.
Situasi seperti ini bisa membuat caregiver bingung, terutama ketika waktu terasa sempit. Padahal, anak yang menolak memakai baju tertentu belum tentu sedang ingin mempersulit keadaan. Bagi sebagian anak, ada rasa tidak nyaman yang benar-benar terasa di tubuhnya.
Tidak semua penolakan baju memiliki alasan yang sama
Setiap anak memiliki preferensi pakaian yang berbeda. Ada yang tidak menyukai label di bagian leher, jahitan kaus kaki, bahan yang terasa kasar, pakaian yang terlalu ketat, atau sensasi baju yang lembap karena keringat.
Namun, penolakan baju tidak selalu berkaitan dengan kebutuhan sensorik. Anak mungkin sedang lelah, merasa kepanasan, terburu-buru, sedang tidak enak badan, atau belum siap berpindah dari aktivitas sebelumnya. Karena itu, caregiver tidak perlu langsung menyimpulkan satu penyebab.
Yang dapat membantu adalah mengamati polanya. Apakah anak menolak jenis kain tertentu? Apakah ia lebih nyaman dengan model pakaian yang sama? Apakah kesulitannya lebih sering terjadi saat pagi hari atau ketika akan pergi ke tempat tertentu? Pola kecil ini dapat menjadi petunjuk yang lebih berguna daripada memaksa anak cepat memilih.
Bagi sebagian anak, tekstur pakaian dapat terasa sangat kuat
Autisme dapat melibatkan perbedaan cara seseorang merespons informasi sensorik. Hal ini dapat berupa respons yang lebih kuat, lebih ringan, atau kebutuhan untuk mencari sensasi tertentu. Penjelasan CDC tentang respons sensorik pada autisme juga mencantumkan respons yang tidak biasa terhadap sensasi, termasuk reaksi terhadap tekstur tertentu, sebagai salah satu hal yang dapat ditemukan pada sebagian individu autistik.
Dalam kehidupan sehari-hari, sensasi kecil yang mungkin tidak terlalu diperhatikan orang lain dapat terasa sangat mengganggu bagi anak. Jahitan di ujung kaus kaki, label yang bergesekan dengan leher, atau bahan baju yang panas bisa membuat tubuhnya sulit merasa nyaman.
Penelitian tentang pemrosesan sentuhan pada individu autistik memang menunjukkan bahwa respons terhadap sentuhan dapat berbeda-beda. Namun, penelitian juga menekankan bahwa pengalaman sensorik sangat beragam antarindividu dan mekanismenya masih terus dipelajari. Tinjauan ilmiah mengenai pemrosesan sentuhan pada autisme mengingatkan kita untuk tidak menganggap semua anak memiliki pengalaman yang sama.
Langkah kecil yang dapat dicoba di rumah
Tujuannya bukan agar anak dipaksa menyukai semua jenis pakaian. Tujuannya adalah membantu ia merasa lebih aman, nyaman, dan memiliki ruang untuk menyampaikan kebutuhannya.
Beberapa langkah berikut dapat dicoba secara perlahan:
- Siapkan dua atau tiga pilihan pakaian yang sama-sama sesuai kebutuhan hari itu. Pilihan terbatas dapat membantu anak tetap memiliki kendali tanpa membuatnya kewalahan.
- Perhatikan detail kecil yang sering memicu rasa tidak nyaman, seperti label, jahitan, ukuran, bahan, atau suhu pakaian. Bila memungkinkan, pilih bahan yang sudah anak kenal nyaman.
- Kenalkan pakaian baru saat situasi sedang tenang, bukan lima menit sebelum berangkat. Anak dapat menyentuh, melihat, atau mencoba sebentar terlebih dahulu di rumah.
- Simpan pakaian cadangan yang nyaman di tas sekolah atau kendaraan, terutama jika anak sensitif terhadap baju basah, kotor, atau perubahan suhu.
- Gunakan bahasa yang sederhana: “Bajunya terasa gatal, ya?” atau “Kamu mau kaus yang biru atau abu-abu?” Kalimat seperti ini membantu anak merasa didengar sekaligus memperluas cara ia menyampaikan kebutuhannya.
Bila anak menolak, caregiver dapat memberi jeda sebentar sebelum mencoba kembali. Nada suara yang tenang dan langkah yang bertahap biasanya lebih membantu daripada memberi banyak instruksi dalam waktu bersamaan.
Kapan perlu mencari dukungan tambahan?
Jika ketidaknyamanan terhadap pakaian sering mengganggu aktivitas sehari-hari, membuat anak kesulitan tidur, makan, sekolah, atau tampak mengalami iritasi kulit maupun rasa sakit, caregiver dapat berdiskusi dengan dokter anak atau terapis okupasi yang memahami kebutuhan sensorik anak.
Panduan AAP mengenai pemrosesan sensori juga mengingatkan bahwa setiap dukungan perlu disesuaikan dengan kebutuhan individual. Tidak semua strategi atau produk sensorik cocok untuk setiap anak, dan bukti untuk berbagai intervensi juga tidak selalu sama kuatnya.
Anak yang memilih pakaian tertentu mungkin sedang berusaha memberi tahu bahwa tubuhnya membutuhkan rasa nyaman. Saat caregiver mulai melihat penolakan baju sebagai bentuk komunikasi, momen berpakaian dapat perlahan menjadi lebih tenang—bukan karena anak harus menahan rasa tidak nyaman, tetapi karena kebutuhannya mulai dipahami.